• Gambar 4
  • Gambar 3

Selamat Datang di Website SMA NEGERI 7 TEBO Provinsi Jambi. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


SMA NEGERI 7 TEBO

NPSN : 10503254

Jl.Apel Desa Karang Dadi Kec. Rimbo iir Kab.Tebo Jambi


[email protected]

TLP : 081366541424


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 12464
Pengunjung : 6120
Hari ini : 53
Hits hari ini : 149
Member Online : 0
IP : 216.73.216.149
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

Gegar Budaya dan Strategi Adaptasi Pekerja Migran Indonesia di Bidang Pertanian Jepang




Gegar Budaya dan Strategi Adaptasi Pekerja Migran Indonesia di Bidang Pertanian Jepang

Oleh: Nunuk Endah Srimulyani, S.S., M.A., Ph.D (Prodi Bahasa dan Sastra Jepang FIB Unair)

Saat ini, sektor pertanian Jepang menghadapi kekurangan tenaga kerja yang signifikan, terutama akibat masalah demografis. Kekurangan tenaga kerja ini disebabkan oleh penurunan angka kelahiran dan populasi yang menua dengan cepat. Akibatnya, semakin sedikit orang muda yang ingin bekerja di bidang pertanian sehingga jumlah petani terus berkurang. Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja, industri pertanian Jepang semakin banyak yang mempekerjakan pekerja asing. Bahkan seringkali para pekerja asing ini justru memainkan peran yang signifikan dalam menjaga produktivitas pertanian. 

Ketergantungan pada tenaga kerja asing ini menunjukkan betapa pentingnya reformasi menyeluruh untuk meningkatkan perlakuan dan kondisi kerja bagi semua pekerja pertanian, baik domestik maupun asing. Upaya mengatasi tantangan-tantangan ini sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing sektor pertanian Jepang di tahun-tahun mendatang.

Tenaga kerja asing seperti pemagang (jisshusei) dan pekerja berketerampilan khusus atau Specific Skilled Worker/SSW (tokutei ginou) yang tinggal di Jepang berada di posisi yang tidak pasti dan rentan. Program tersebut awalnya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dari pemagang yang berasal dari Vietnam, Filipina, Indonesia dan lain-lain. Namun, banyak pihak yang mengkritik bahwa program ini justru menjadi alat untuk menjaring tenaga kerja bergaji rendah.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Nunuk Endah Srimulyani (Universitas Airlangga) dan Beatrice Lim Fui Yee (Universiti Malaysia Sabah) mengkaji tantangan yang dihadapi pekerja migran Indonesia saat bekerja di sektor pertanian Jepang, serta strategi adaptasi dan daya saing mereka. Karena pekerja migran Indonesia berasal dari negara yang tidak menggunakan huruf Kanji, diasumsikan bahwa bahasa merupakan hambatan utama bagi mereka.

Oleh karena itu, pengalaman para pekerja migran Indonesia di sektor pertanian Jepang dapat memberikan wawasan yang berharga tentang tantangan yang dihadapi oleh pekerja asing di industri ini. Dengan mendengarkan cerita mereka dan mengatasi masalah mereka, Pemerintah Jepang dapat bekerja untuk menciptakan sektor pertanian yang lebih inklusif dan adil. Langkah ini tidak hanya akan sangat bermanfaat bagi pekerja asing, tetapi juga memainkan peran penting dalam memastikan keberlanjutan jangka panjang dan daya saing sektor pertanian Jepang. Selain itu, strategi adaptasi yang dilakukan oleh pekerja migran Indonesia di atas dapat menjadi inspirasi dalam mengelola pekerja migran, khususnya di negara-negara minoritas Muslim lainnya.

(Sumber: https://unair.ac.id/gegar-budaya-dan-strategi-adaptasi-pekerja- migran-indonesia-di-bidang-pertanian-jepang/)




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas