• Gambar 4
  • Gambar 3

Selamat Datang di Website SMA NEGERI 7 TEBO Provinsi Jambi. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


SMA NEGERI 7 TEBO

NPSN : 10503254

Jl.Apel Desa Karang Dadi Kec. Rimbo iir Kab.Tebo Jambi


[email protected]

TLP : 081366541424


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 12462
Pengunjung : 6120
Hari ini : 53
Hits hari ini : 147
Member Online : 0
IP : 216.73.216.149
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

Membangun Ekosistem Kecerdasan Buatan Melalui Kolaborasi Indonesia-Amerika Serikat




Kecerdasan Buatan, Apa dan Bagaimana?

Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, terampil dan berdaya saing tinggi adalah modal terkuat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pembangunan di Indonesia. Tahun 2045 menjadi sangat spesial untuk menandai 100 tahun Indonesia Merdeka dengan kado status Indonesia menjadi negara maju. Untuk mencapai Indonesia Emas di tahun 2045 memerlukan peningkatan kualitas SDM secara menyeluruh pada pendidikan, keterampilan, dan kompetensi. SDM yang menguasai literasi digital akan berkontribusi pada pemanfaatan teknologi dalam pembangunan, serta meningkatkan daya saing dengan negara-negara lain.

Di masa kini, peningkatan kualitas SDM tidak bisa dilakukan hanya dengan cara konvensional. Derasnya laju transformasi digital setiap sektor memberikan pesan kuat bahwa di masa yang akan datang penguasaan digital menjadi kompetensi mutlak yang harus dimiliki pelaku pembangunan. Penguasaan digital dapat ditandai dengan seberapa jauh dan seberapa banyak pemangku kepentingan memanfaatkan kecerdasan buatan dalam melaksanakan tugas dan di setiap sendi kehidupan. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) merupakan sistem yang dikembangkan pada mesin atau komputer sehingga memiliki kecerdasan sama atau melebihi manusia (Manongga, dkk, .2022).

Kecerdasan buatan saat ini sedang mengubah wajah dunia kerja. Dapat dipastikan perubahan tersebut akan terus berlanjut. Di masa depan akan semakin banyak jenis pekerjaan manusia yang tergantikan oleh kecerdasan buatan. Perubahan tersebut tidak dapat kita hindari, namun kita penting mengambil peran dalam mengembangkan, mengelola, dan menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu penugasan atau pekerjaan sehari-hari. Masyarakat perlu memahami teknologi kecerdasan buatan dan dampaknya sehingga dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Serbuan kecerdasan buatan di dunia pendidikan sejatinya dimaknai sebagai alternatif alat bantu para guru dan siswa untuk meningkatkan kompetensi dan membantu pelaksanaan tugas. Namun sebagian pendidik dan tenaga kependidikan/PTK masih skeptis menerima alat bantu jenis baru ini. Mereka tergagap-gagap menerima, mempelajari ataupun menggunakan kecerdasan buatan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Beruntung para siswa (generasi Z dan generasi Alpha) sangat lincah berselancar di dunia maya sehingga mereka relatif lebih cepat berhabituasi terhadap kecerdasan buatan. Perbedaan pemanfaatan kecerdasan buatan antara PTK dengan siswa menciptakan gap yang menyebabkan masih banyak terdapat proses KBM di ruang kelas berlangsung secara konvensional dan membosankan.

Disrupsi kecerdasan buatan membawa perubahan pada pengelolaan kelas dan pembuatan konten pembelajaran yang menarik dan interaktif. Guru dapat menggunakan google classroom sebagai platform pembelajaran online (media pembelajaran daring) yang memudahkan guru dalam memberikan tugas, menilai hasil penugasan, dan berkomunikasi dengan siswa secara efisien. Secara spesifik, google classroom menggunakan kecerdasan buatan pada:

1. Memberikan saran cerdas pada guru saat membuat tugas dan ujian dan saran tindak lanjut pada siswa ketika mereka menyelesaikan tugas

2. Memberikan umpan balik yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

3. Membantu guru menilai pekerjaan siswa dengan lebih cepat dan efisien dalam bentuk memberikan saran penilaian dan memberikan umpan balik terkait jawaban siswa

4. Mendeteksi tindakan plagiasi

5. Menganalisis data dan membantu guru untuk memperbaiki proses pembelajaran

 

Kecerdasan buatan juga dapat digunakan oleh guru untuk membuat media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan efektif (Baskara, 2024). Aplikasi kecerdasan buatan yang dapat membantu guru misalnya:

1. Canva

Guru di Indonesia sangat familiar dengan pemanfaatan canva untuk membuat berbagai media pembelajaran visual seperti poster, infografis, presentasi, dan video.

2. Lumen 5

Aplikasi kecerdasan buatan yang dapat mengubah teks menjadi video yang animasi dan interaktif dimana kecerdasan buatan akan membantu memilih gambar, musi, dan narasi yang cocok dengan teks

3. Sway

Sway menyediakan fitur kecerdasan buatan yang membantu guru membuat presentasi lebih efekfif seperti membantu membuat teks presentasi yang lebih menarik dan mudah dipahami, atau menemukan gambar yang relevan dengan topik presentasi

4. Crello

Aplikasi desain grafis yang mirip dengan canva namun terdapat fitur kecerdasan buatan untuk membantu guru membuat desain yang lebih profesional

5. Powtoon

Aplikasi animasi yang memungkinkan guru membuat animasi yang menarik dan interaktif. (video explainer, presentasi animasi, dan infografis animasi)

6. ClassPoint

Siswa akan sangat tertarik ketika pembelajaran dilakukan secara interaktif. ClassPoint dapat membuat kuis interaktif yang dijawab siswa secara real-time, atau permainan edukasi

7. Blended

Sangat penting untuk menyelenggarakan pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar yang dipersonalisasi kepada siswa. Berbagai fitur kecerdasan buatan di platform pembelajaran online dapat membantu guru membuat kursus online yang lebih efektif seperti:

  1. • Rekomendasi konten pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar siswa
  2. • Penilaian adaptif yang membantu memberikan penilaian yang disesuaikan dengan Tingkat kemampuan siswa
  3. • Umpan balik real-time kepada siswa

8. Nearpod

Nearpod adalah Platform pembelajaran online yang memungkinkan guru membuat presentasi interaktif maupun aktivitas kolaboratif dengan siswa dalam bentuk brainstorming dan pemecahan masalah.

Berbagai kemampuan kecerdasan buatan ini semestinya dipandang sebagai peluang besar untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pembelajaran. Metode yang sarat dengan literasi digital sangat disukai Generasi Z dan Generasi Alpha, sehingga mereka akan lebih tertarik dengan KBM yang menggunakan kecerdasan buatan.

Peluang Program Kolaborasi di Ekosistem Kecerdasan Buatan

Ekosistem kecerdasan buatan merupakan upaya membangun jaringan dimana berbagai faktor kecerdasan buatan saling berinteraksi dan mempengaruhi. Untuk itu mengembangkan dan menerapkan kecerdasan buatan pada berbagai sendi kehidupan merupakan tantangan kompleks yang perlu dimitigasi dan ditangani. Ekosistem kecerdasan buatan dipengaruhi faktor antara lain:

1. Kompetensi sumber daya manusia

2. Teknologi kecerdasan buatan

3. Kualitas, kuantitas, dan akses data

4. Ketersediaan infrastruktur yang memadai misalnya koneksi internet

5. Regulasi yang berpihak pada etika penggunaan kecerdasan buatan dan keamanan

Amerika Serikat merupakan negara terdepan yang memimpin negara-negara di dunia terkait penciptaan, pengembangan, dan pemanfaatan kecerdasan buatan. Penggunaan kecerdasan buatan dibidang pendidikan, kesehatan, keuangan, manufaktur, maupun transportasi merupakan hal yang biasa ditemukan di Amerika Serikat. Otomatisasi tugas, analisis data, bahkan pelayanan pelanggan yang menggunakan chat bot bukanlah menjadi barang baru di negara tersebut. Jika dibandingkan dengan Indonesia, maka Indonesia lumayan jauh tertinggal dibandingkan Amerika Serikat. Secara spesifik keunggulan Amerika Serikat diantaranya:

1. Amerika Serikat memimpin dunia dalam adopsi dan pengembangan kecerdasan buatan di berbagai sektor kehidupan. Di sektor pendidikan, Amerika Serikat menerapkan kecerdasan buatan di berbagai aspek pendidikan seperti pembelajaran personalisasi, penilaian, manajemen kelas, dll.

2. Berbagai perusahaan di Amerika Serikat berinvestasi pada pengembangan kecerdasan buatan dan menciptakan platform kecerdasan buatan seperti Google dan Microsoft.

Indonesia sedang mengadopsi kecerdasan buatan namun masih banyak keterbatasan. Tidak semua guru di Indonesia menggunakan kecerdasan buatan pada KBM walaupun cukup banyak guru di Indonesia yang menggunakan canva maupun platform pembelajaran. Untuk mempersiapkan generasi unggul 2045 yang melek teknologi, kreatif dan inovatif, serta berwawasan global, maka Indonesia membutuhkan bantuan Amerika Serikat.

Beberapa aspek yang perlu ditingkatkan dan menjadi peluang kolaborasi antara Indonesia dan Amerika Serikat dapat berupa:

1. Peningkatan kompetensi guru

Tak pelak dipungkiri masih terbatas pemahaman guru di Indonesia dalam pemanfaatan kecerdasan buatan. Untuk itu perlu diupayakan peningkatan literasi kecerdasan buatan melalui:

  1. • Workshop, seminar, atau kursus. Amerika Serikat dapat berperan dalam membantu pendanaan, ataupun penyediaan tenaga ahli. Pelaksanaan dapat dilakukan di Indonesia atau di luar negeri. Luaran dari aktifitas ini adalah guru dapat membuat materi pembelajaran yang menarik, interaktif, dan sesuai kemampuan dan kebutuhan siswa
  2. • Program uji kompetensi kecerdasan buatan. Para guru dimudahkan untuk mendaftar dan mengikuti uji kompetensi kecerdasan buatan. Para guru yang dinyatakan lulus akan mendapat sertifikat kompetensi sebagai bukti pengakuan terhadap kompetensi yang dimilikinya. Indonesia dapat bekerjasama dengan Amerika Serikat dalam penyelenggaraan uji kompetensi tersebut sehingga pengakuan atas sertifikat dapat juga digunakan di negara lain.
  3. • Amerika Serikat dapat memberikan beasiswa kepada para guru di Indonesia untuk mengikuti pendidikan di jenjang selanjutnya terkait kecerdasan buatan (S1, S2, atau S3).

2. Pengembangan kurikulum dan materi pembelajaran

Amerika Serikat dapat membantu Indonesia dengan memperkenalkan konsep dasar kecerdasan buatan kepada siswa. Siswa juga dapat diperkenalkan pada pemanfaatan kecerdasan buatan untuk membantu siswa lebih memahami materi pembelajaran dan dalam kehidupan sehari-hari. Amerika Serikat sebagai negara adidaya yang sangat menguasai kecerdasan buatan, dapat diajak bekerjasama untuk mengembangkan kurikulum dan materi pembelajaran bagi siswa. Mengintegrasikan materi kecerdasan buatan ke mata pelajaran yang relevan seperti matematika, fisika atau informatika. Pengayaan materi kecerdasan buatan di KBM bermanfaat bagi siswa misalnya:

  1. • Mengembangkan higher order thinking (kemampuan berpikir tingkat tinggi)
  2. • Platform pembelajaran online yang dapat diakses siswa ke materi pembelajaran dan latihan
  3. • Pembelajaran berbasis proyek dimana siswa dapat menggunakan kecerdasan buatan untuk mengakses data, alat, dan sumberdaya yang relevan dengan proyek yang sedang ditangani
  4. • Pengembangan keterampilan kreatif dimana siswa mengeksplorasi ide-ide kreatif dan mengembangkan solusi dengan memberikan platform pembelajaran yang mendukung kreatifitas.

Upaya mengembangkan higher order thinking (kemampuan berpikir tingkat tinggi) siswa dengan menggunakan kecerdasan buatan sebagai berikut:

  1. • Mengingat informasi
  2. • Memahami fakta, konsep, dan gagasan
  3. • Menyelesaikan masalah dengan menerapkan pengetahuan, fakta, teknik, dan aturan dengan cara yang unik
  4. • Menganalisis data dan kondisi untuk mengeksplorasi koneksi dan hubungan
  5. • Mengevaluasi
  6. • Menghasilkan ide, produk, atau cara pandang baru sebagai solusi pemecahan masalah

3. Transfer teknologi kecerdasan buatan

Untuk menyiapkan SDM berkualitas dan berdaya saing tinggi maka dibutuhkan transfer teknologi kecerdasan buatan dari Amerika Serikat ke Indonesia. Secara geografis dan topografis (daerah terpencil dengan akses internet terbatas), maupun gap kemampuan penguasaan literasi digital antar guru dan antar siswa, maka Indonesia memiliki tantangan besar pada transfer teknologi kecerdasan buatan. Amerika Serikat dan Indonesia dapat berkolaborasi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Beberapa aspek perlu dipersiapkan terlebih dahulu sebelum melakukan transfer teknologi kecerdasan buatan antara lain:

  1. • SDM berkompeten
  2. • Infrastruktur dan teknologi
  3. • Kerjasama dan kolaborasi
  4. • Standarisasi dan regulasi

 

Rekomendasi

 Di tahun 2045 para stakeholder pembangunan harus menguasai dan memanfaatkan kecerdasan buatan. Keberadaan kecerdasan buatan tidak bisa ditolak karena di masa depan digitalisasi sangat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan. Penyiapan SDM yang mampu menguasai dan memanfaatkan kecerdasan buatan harus dilakukan lebih intensif. Amerika Serikat yang sangat unggul dibidang kecerdasan buatan menjadi salah satu peluang jika Indonesia ingin mewujudkan SDM mumpuni. Aspek yang membutuhkan kolaborasi dengan Amerika Serikat misalnya:

1. Peningkatan kapasitas SDM

Guru di Indonesia harus meningkatkan kapasitasnya dalam menguasai kecerdasan buatan melalui pendidikan (S1, S2, atau S3), pelatihan (kursus, workshop, dll) atau pertukaran guru (berbagai pengetahuan dan pengalaman tentang kecerdasan buatan dalam pendidikan). Amerika Serikat dapat berperan serta pada dukungan pendanaan, instruktur, penyediaan beasiswa ke negara Amerika Serikat ataupun memfasilitasi pertukaran guru Indonesia ke Amerika Serikat. Di sisi lain, para siswa dapat memperdalam pengetahuannya terkait pemanfaatan kecerdasan buatan melalui pelatihan, workshop, ataupun seminar.

2. Pengembangan kurikulum dan materi pelajaran

Siswa membutuhkan materi pembelajaran yang dikemas dengan lebih menarik, interaktif, dan berkualitas. Perlu dirancang kurikulum yang mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam pembelajaran misalnya pembelajaran personalisasi, simulasi, game edukasi, platform pembelajaran virtual, dll

3. Pengembangan teknologi dan infrastruktur

Indonesia memiliki 17.508 pulau dengan jumlah penduduk miskin pada Maret 2024 sebesar 25,22 juta orang (9,03%) menunjukkan tantangan besar pengembangan teknologi dan penyediaan infrastruktur. Kolaborasi dengan Amerika Serikat dalam membangun infrastruktur teknologi yang mendukung penggunaan kecerdasan buatan misalnya penyediaan jaringan internet yang kuat dan stabil serta perangkat keras yang memadai. Selanjutnya diperlukan transfer teknologi kecerdasan buatan tersebut agar Indonesia menjadi lebih mandiri dalam menguasai dan memanfaatkan kecerdasan buatan.

4. Penelitian dan pengembangan

Kolaborasi penelitian terkait efektifitas dan dampak kecerdasan buatan dalam pendidikan, maupun jenis kecerdasan buatan yang paling sesuai dengan kebutuhan pendidikan di Indonesia.

5. Pengembangan ekosistem kecerdasan buatan dalam pendidikan

Perlu berkolobarasi untuk membentuk networking antar komunitas maupun pemangku kepentingan pendidikan. Ekosistem ini akan menjadi wadah untuk mensosialisasikan maupun mengadvokasi penggunaan kecerdasan buatan dalam pendidikan

Inisiatif kolaborasi ini dapat dimulai dengan pendekatan government to government antara Indonesia dan Amerika Serikat. Pendekatan tersebut juga mendiskusikan pemetaan kebutuhan Indonesia terhadap kecerdasan buatan dibidang pendidikan dan selanjutnya melaksanakan program untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Diharapkan kolaborasi ini dapat terwujud untuk mempercepat dan meningkatkan pemanfaatan dan penguasaan kecerdasan buatan demi menciptakan kualitas SDM unggul.

 

Literatur

Baskara, N. 2024. 10 Aplikasi Kecerdasan Buatan (AI) Gratis yang Mempermudah Guru dalam Membuat Media Pembelajaran. https://smk-mgl.tarakanita.sch.id/detail_article/10-aplikasi-kecerdasan-buatan-ai-gratis-yang-mempermudah-guru-dalam-membuat-media-pembelajaran (diunduh tanggal 3 September 2024)

Manongga, D., Rahardja, U., Sembiring, . I., Lutfiani, N., & Yadila, A. B. 2022. RETRACTED (Di Tarik) : Dampak Kecerdasan Buatan Bagi Pendidikan . ADI Bisnis Digital Interdisiplin Jurnal, 3(2), 110–124. https://doi.org/10.34306/abdi.v3i2.792

Putra, TSA. 2021. Benturan Era Disrupsi pada Sistem Birokrasi. https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-kalbar/baca-artikel/14296/Benturan-Era-Disrupsi-pada-Sistem-Birokrasi.html#:~:text=Era%20Disrupsi%20menurut%20arti%20kata,ke%20taraf%20yang%20lebih%20baru. (diunduh tanggal 3 September 2024)

_____2023. Artificial Intelligence Google Classroom. https://alimamischool.com/artificial-intelligence-didalam-google-classroom/ (diunduh tanggal 3 September 2024)

______2024. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2024/07/01/2370/persentase-penduduk-miskin-maret-2024-turun-menjadi-9-03-persen-.html (diunduh tanggal 9 September 2024)

 

Penulis : Beryana Evridawati

Editor : Tim Publikasi Direktorat. SMA

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :

Pengirim : Defriko Chandra SPd -  [[email protected]]  Tanggal : 23/04/2025
sangat menginspirasi, semoga guru di Indonesia dapat menerapkannya dalam pembelajara


   Kembali ke Atas